Umum

Tanam 7.000 Pohon di Lereng Arjuna, JTI Indonesia Komitmen Cegah Krisis Air di Pasuruan

234
×

Tanam 7.000 Pohon di Lereng Arjuna, JTI Indonesia Komitmen Cegah Krisis Air di Pasuruan

Sebarkan artikel ini

KILASINDO.COM – Menghadapi tantangan perubahan iklim yang kian nyata, Japan Tobacco International (JTI) Indonesia bersama komunitas pecinta lingkungan menggelar aksi konservasi di lereng Gunung Arjuna, Pasuruan, Minggu (25/1/2026). Aksi ini diwujudkan melalui penanaman pohon endemik dan pembuatan rorak (lubang serapan) untuk mencegah erosi serta menjaga ketersediaan air tanah.

Program bertajuk “Tandur Banyu” ini merupakan langkah strategis untuk melindungi daerah tangkapan air yang menjadi tumpuan bagi masyarakat dan pembangunan di wilayah Jawa Timur.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Konservasi Hulu untuk Kesejahteraan Hilir
Factory Lead JTI Indonesia, Reza Safarzadeh, menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk menjaga keberlanjutan sumber mata air di kawasan strategis Gunung Arjuna. Menurutnya, pola cuaca yang tidak menentu—seperti musim hujan singkat namun intensitas tinggi—meningkatkan risiko bencana dan penurunan debit air baku.

“Kawasan ini strategis bagi ekosistem hayati dan menjadi daerah tangkapan air yang memasok sejumlah wilayah di Jawa Timur. Aktivitas masyarakat di hilir, mulai dari pertanian hingga industri, sangat bergantung pada kesehatan hutan di hulu,” ujar Reza.

Sejak diluncurkan pada tahun 2022, program Tandur Banyu telah menanam dan merawat sedikitnya 7.000 tanaman endemik. Selain penanaman, JTI Indonesia juga fokus pada penguatan manajemen pengelolaan hutan bersama masyarakat setempat.

Kolaborasi Lintas Sektor
Upaya pelestarian ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Sekretaris Daerah Kab. Pasuruan, H. Yudha Tri Sasongko, yang hadir dalam acara tersebut, menekankan bahwa rehabilitasi hutan adalah investasi jangka panjang.

“Upaya menjaga lingkungan harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Kami mengapresiasi kolaborasi dunia usaha dan komunitas di kawasan Putuk Elang ini. Apa yang kita tanam hari ini adalah untuk anak cucu kita nanti,” tegas Yudha.

READ  Suparma Tanam 80 Pohon Kluwih, Tebar 8.000 Bibit Ikan di Surabaya

Yudha juga memperingatkan bahwa tanpa adanya konservasi, peningkatan aliran permukaan (run off) dapat memicu banjir, tanah longsor, hingga kerusakan infrastruktur jalan di wilayah Pasuruan.

Pemberdayaan Komunitas Lokal
Tidak hanya fokus pada lingkungan, program ini juga menyentuh aspek pemberdayaan ekonomi. Ketua Komunitas Tani Organik Sumadi sekaligus pengelola perhutanan sosial, Nurhidayat, mengungkapkan bahwa kerja sama dengan JTI Indonesia mencakup banyak dimensi.

“Selain penanaman, kami dibantu dalam manajemen pariwisata berbasis komunitas. Ke depannya, juga akan dilakukan riset dan kajian di bidang ekologi di kawasan Putuk Elang ini,” kata Nurhidayat.

Sebelumnya, pada Desember 2025, JTI Indonesia bersama Baskomas dan Alliance Water Stewardship telah menginisiasi forum kolaborasi untuk menciptakan ekosistem air yang berkelanjutan di Pasuruan, melibatkan akademisi, pemerintah, hingga pelaku usaha. (HFM)