PemerintahanUmum

Kejar Swasembada Daging, Pemerintah Bidik Sapi Indukan dari Brasil dan Eropa

351
×

Kejar Swasembada Daging, Pemerintah Bidik Sapi Indukan dari Brasil dan Eropa

Sebarkan artikel ini

KILASINDO.COM – Pemerintah menghadapi tantangan besar dalam upaya mencapai swasembada daging sapi nasional, salah satunya keterbatasan dalam mendapatkan sapi indukan dari luar negeri. Untuk mempercepat peningkatan populasi ternak di dalam negeri, pemerintah membidik sejumlah negara produsen sapi, termasuk Brasil dan negara-negara Eropa.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengakui pengadaan sapi indukan bukan perkara mudah, sementara kebutuhan nasional masih sangat tinggi. Indonesia saat ini masih mengimpor rata-rata sekitar 1 juta ekor sapi setiap tahun.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

“Kan enggak mudah juga tuh dapat indukan. Bisa dari Eropa, bisa dari Brasil, dan lain-lain,” ujar Zulhas di Jakarta, Minggu (16/8/2026).

Untuk mempercepat pengadaan sapi indukan, pemerintah tengah menyiapkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang percepatan swasembada daging sapi. Regulasi tersebut nantinya menjadi payung kerja sama pemerintah dengan sejumlah negara produsen sapi besar.

Menurut Zulhas, kerja sama dengan negara pemasok diperlukan agar Indonesia dapat mendatangkan sapi indukan unggul untuk dikembangkan dan dibudidayakan di dalam negeri. Dengan demikian, impor tidak hanya berorientasi pada sapi bakalan untuk dipotong, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan populasi sapi nasional.

Selama ini, Australia menjadi pemasok utama sapi bagi Indonesia. Ketergantungan terhadap satu negara pemasok dinilai membuat ketersediaan sapi menjadi terbatas karena Indonesia harus bersaing dengan negara lain dalam memperoleh pasokan.

Pemerintah kemudian membuka sumber pasokan baru dari sejumlah negara. Sejak Mei 2025, Indonesia resmi membuka akses impor sapi dari Brasil, Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Meksiko.

Brasil menjadi salah satu negara yang dibidik karena memiliki populasi sapi yang sangat besar, mencapai sekitar 200 juta ekor. Selain itu, Brasil telah ditetapkan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) sebagai zona bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tanpa vaksinasi.

READ  Kementan dan Pelaku Usaha Komit Dongkrak Harga Ayam Broiler di Tingkat Peternak

Jenis sapi Girolando asal Brasil juga dinilai memiliki karakteristik yang sesuai dengan kondisi iklim tropis Indonesia sehingga berpotensi dikembangkan untuk mendukung peningkatan populasi dan produksi peternakan nasional.

Program pengadaan sapi tersebut menjadi bagian dari Program Percepatan Peningkatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN). Pemerintah menargetkan kedatangan 1 juta ekor sapi perah dan 1 juta ekor sapi pedaging hingga 2029.

Pengadaan tersebut dirancang melalui investasi mandiri para pelaku usaha dan tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengatakan skema pengadaan sapi indukan tersebut sepenuhnya mengandalkan investasi pelaku usaha. Hingga 10 Juli 2025, realisasi pengadaan telah mencapai 25.097 ekor sapi.

Jumlah tersebut terdiri atas 11.375 ekor sapi perah dan 13.722 ekor sapi pedaging.

Capaian tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata hanya sekitar 6.000 ekor sapi per tahun dan masih mengandalkan pembiayaan APBN.

Upaya meningkatkan populasi sapi menjadi semakin mendesak karena populasi sapi potong nasional per Februari 2025 tercatat sekitar 11,7 juta ekor. Di sisi lain, produksi susu segar dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 21 persen dari total kebutuhan nasional yang mencapai 4,6 juta ton per tahun.

Artinya, sekitar 79 persen kebutuhan susu nasional masih harus dipenuhi melalui impor.

Sapi indukan yang didatangkan ke Indonesia sebagian besar dalam kondisi bunting. Skema tersebut diharapkan dapat mempercepat pertambahan populasi sapi melalui kelahiran pedet di dalam negeri.

Peningkatan produksi daging dan susu nasional nantinya tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, tetapi juga mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta memperkuat ketahanan pangan nasional.

READ  Presiden Prabowo Reshuffle Pimpinan BGN, Nanik Sudaryati Deyang Ditunjuk sebagai Kepala Baru

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengakui Indonesia masih belum mencapai swasembada daging sapi dan kerbau. Kondisi tersebut berbeda dengan komoditas ayam, telur, dan ikan yang dinilai telah memiliki tingkat kemandirian produksi lebih baik.

Pemerintah menargetkan kemandirian daging sapi dapat diwujudkan dalam lima hingga enam tahun ke depan. Untuk mencapai target tersebut, pengadaan sapi indukan, perluasan sumber impor, investasi peternakan, serta peningkatan populasi sapi di dalam negeri menjadi bagian penting dari strategi pemerintah. (FSU)