KILASINDO.COM – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, membeberkan alasan di balik perombakan posisi 13 kepala perangkat daerah (PD) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya selama satu tahun terakhir. Langkah tegas ini diambil murni berdasarkan evaluasi kinerja dan ketercapaian target pembangunan.
Cak Eri—sapaan akrab Wali Kota—menegaskan bahwa rotasi jabatan pejabat eselon tersebut tidak dilandasi oleh faktor like or dislike (suka atau tidak suka), melainkan ketercapaian output dan outcome dari program yang telah dijanjikan masing-masing dinas.
“Di Surabaya ada 13 kepala dinas yang sudah berganti dalam waktu 1 tahun. Karena bukan suka dan tidak suka, tapi mereka tidak bisa mencapai output dan outcome yang mereka janjikan dalam waktu satu tahun,” tegas Eri Cahyadi, Rabu (7/10/2026).
Eri mengibaratkan peran kepala daerah layaknya seorang pemimpin orkestra yang bertugas mengolaborasikan seluruh elemen birokrasi dan warga kota demi tercapainya target pembangunan.
Inovasi Layanan Publik: ASN Berkantor di Balai RW
Selain melakukan evaluasi berkala terhadap pimpinan dinas, Pemkot Surabaya juga melakukan perombakan besar-besaran pada budaya kerja Aparatur Sipil Negara (ASN). Untuk memotong jarak birokrasi dengan masyarakat, para pegawai kini didorong untuk berkantor dan memberikan pelayanan langsung di Balai RW.
“Di Surabaya kita ubah cara bekerja kita. Kami tidak bekerja lagi di kantor, tapi pegawai negeri sipil (PNS) kami dan ASN bekerjanya di balai RW agar lebih dekat dengan rakyatnya,” jelasnya.
Pendekatan pelayanan publik di Kota Pahlawan ini juga disesuaikan dengan siklus kehidupan warga, mulai dari pendampingan masa kehamilan, tumbuh kembang anak, hingga pelayanan bagi warga lansia.
Efisiensi Digital: Ratusan Aplikasi Dipangkas Jadi Dua
Di sektor tata kelola digital, Pemkot Surabaya mengambil langkah efisiensi dengan memangkas ratusan aplikasi internal yang dinilai tidak efektif. Saat ini, sistem digitalisasi Surabaya difokuskan pada dua platform utama:
KantorKu: Digunakan khusus untuk tata kelola pemerintahan dan kerja internal ASN.
WargaKu: Digunakan sebagai kanal resmi pengaduan, aspirasi, dan laporan masyarakat Surabaya.
7 Indikator Utama Keberhasilan Pembangunan
Wali Kota Eri Cahyadi menekankan bahwa visi dan misi pemerintah daerah harus selalu sejalan dengan tujuan pembangunan nasional. Ia menetapkan 7 indikator utama yang menjadi tolok ukur keberhasilan kepemimpinannya maupun para kepala dinas di Surabaya:
1. Angka Kemiskinan
2. Tingkat Pengangguran Terbuka
3. Penanganan Stunting
4. Angka Kematian Ibu dan Anak
5. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
6. Gini Rasio
7. Pertumbuhan Ekonomi
“Maka apa pun yang dilakukan kepala daerah, ketika tujuh indikator ini tidak ada perubahan positif, maka kepala daerah tersebut bisa dikatakan gagal dalam menjalankan tugasnya,” pungkas Eri. (LOY)




