KILASINDO.COM – Sebanyak 36 delegasi dari 16 negara mengikuti program Capacity Building for Like-Minded Countries (LMCs): Sustainable Timber di Banyuwangi pada 24–27 Juni 2026. Selama empat hari, para peserta mempelajari praktik pengelolaan pertanian, perkebunan, kehutanan, hingga industri kayu berkelanjutan yang diterapkan di Indonesia.
Program yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bekerja sama dengan Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University tersebut didanai oleh Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI). Peserta terdiri atas perwakilan pemerintah dan pemangku kepentingan sektor kehutanan dari 16 negara.
Direktur Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI, Erma Rheindrayani, mengatakan kegiatan tersebut merupakan program tahunan yang mengangkat komoditas strategis berbeda setiap tahunnya sebagai media berbagi pengalaman antarnegara.
“Ini merupakan program tahunan dengan fokus pada komoditas strategis yang berbeda setiap tahunnya. Pada 2024 program difokuskan pada komoditas kelapa sawit, sedangkan pada 2025 membahas kopi dan kakao,” ujar Erma saat diterima Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Rabu (24/6/2026).
Sementara itu, Kepala CTSS IPB University, Prof. Damayanti Buchori, menjelaskan kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas peserta dalam pengelolaan komoditas kayu yang legal, berkelanjutan, dan berdaya saing. Selain menjadi forum pembelajaran, program tersebut juga menjadi wadah memperkuat kerja sama internasional di sektor kehutanan.
“Selama pelaksanaan kegiatan, peserta mengikuti sesi pembelajaran di Jakarta dan Bogor serta kunjungan lapangan di Banyuwangi untuk mempelajari berbagai praktik pengelolaan kayu dan industri kayu di Indonesia,” kata Damayanti.
Salah satu materi utama yang dipelajari peserta adalah implementasi Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK). Sistem tersebut menjadi instrumen nasional yang menjamin legalitas, ketertelusuran, serta keberlanjutan produk kayu Indonesia sehingga mampu meningkatkan daya saing di pasar internasional sekaligus memperluas akses ekspor.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyambut baik penyelenggaraan program internasional tersebut. Menurutnya, Banyuwangi memiliki potensi besar di berbagai sektor, mulai dari pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, hingga industri pengolahan kayu yang terus berkembang.
Ia menambahkan, keberadaan tiga taman nasional di Banyuwangi juga menjadi kekuatan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.
“Kami tidak hanya berupaya mengembangkan sektor perkebunan, kehutanan, pertanian, perikanan, dan pariwisata secara berkelanjutan, namun juga terus berupaya melibatkan masyarakat setempat untuk tumbuh bersama,” tutur Ipuk.
Menurut Ipuk, forum tersebut menjadi kesempatan strategis bagi Banyuwangi untuk memperluas jejaring kerja sama internasional sekaligus memperkenalkan berbagai potensi daerah, termasuk industri kayu yang telah menembus pasar ekspor.
“Selain dikenal sebagai penghasil kopi, kakao, beras organik, kelapa, dan produk perikanan, Banyuwangi juga memiliki industri pengolahan kayu yang telah menembus pasar ekspor. Semoga lewat forum ini, kita bisa berjejaring, saling berbagi praktik-praktik baik, dan tentunya membuka peluang kerja sama yang lebih luas,” ujarnya.
Melalui program Capacity Building for Like-Minded Countries (LMCs): Sustainable Timber, Indonesia tidak hanya berbagi pengalaman mengenai pengelolaan kehutanan berkelanjutan, tetapi juga memperkuat diplomasi internasional di sektor kehutanan. Banyuwangi pun diharapkan semakin dikenal sebagai daerah yang mampu mengembangkan industri berbasis sumber daya alam secara berkelanjutan sekaligus berorientasi pada pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. (UTS)




