KILASINDO.COM – Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) pada Juni 2026 mencapai Rp10.432,8 triliun. Nilai tersebut meningkat dibandingkan Mei 2026 yang tercatat sebesar Rp10.415,9 triliun, mencerminkan likuiditas perekonomian nasional yang masih terjaga.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan secara tahunan (year on year/yoy) uang beredar pada Juni 2026 tumbuh sebesar 8,7 persen, meski laju pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 10,8 persen.
“Uang beredar pada bulan Juni tumbuh 8,7 persen secara tahunan, melanjutkan pertumbuhan di bulan Mei sebesar 10,8 persen,” kata Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulis Bank Indonesia, Kamis (23/7/2026).
Menurut Ramdan, perkembangan tersebut menunjukkan kondisi likuiditas perekonomian yang tetap positif. Likuiditas yang kuat menjadi indikator bahwa aktivitas ekonomi masih bergerak dan tidak mengalami stagnasi.
Ia menjelaskan, pertumbuhan uang beredar pada Juni 2026 ditopang oleh peningkatan komponen uang beredar sempit (M1) maupun uang kuasi. Secara tahunan, uang beredar sempit tumbuh 9,8 persen, sedangkan uang kuasi meningkat 6,9 persen.
Uang beredar dalam arti luas (M2) merupakan gabungan dari uang beredar sempit (M1), uang kuasi, serta surat berharga yang diterbitkan oleh sistem moneter.
Sementara itu, uang beredar sempit (M1) mencakup uang kartal yang dipegang masyarakat, giro rupiah, uang elektronik, hingga tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu. Adapun uang kuasi terdiri atas dana yang tersimpan dalam rekening tabungan maupun deposito berjangka.
Bank Indonesia menyebutkan bahwa pertumbuhan uang beredar pada Juni juga didorong oleh peningkatan penyaluran kredit perbankan. Hingga Juni 2026, penyaluran kredit tumbuh 12,1 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Mei 2026 yang sebesar 10,8 persen.
“Penyaluran kredit hingga Juni 2026 tumbuh sebesar 12,1 persen secara tahunan. Sedangkan pada bulan Mei 2026 penyaluran kredit hanya sebesar 10,8 persen,” ujar Ramdan.
Selain penyaluran kredit, perkembangan uang beredar juga dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat. Komponen ini merupakan selisih antara total pinjaman yang diberikan bank kepada pemerintah dengan total simpanan pemerintah di Bank Indonesia.
Berdasarkan data BI, tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat pada Juni 2026 tumbuh 10,1 persen secara tahunan. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Mei 2026 yang mencapai 37,4 persen.
Meski pertumbuhan uang beredar mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya, Bank Indonesia menilai kondisi likuiditas nasional tetap berada pada level yang mendukung aktivitas ekonomi, seiring meningkatnya penyaluran kredit kepada dunia usaha dan masyarakat. (UCG)




