Beranda KESEHATAN Peringati Hari Diabetes, RS Royal Taruma Gelar Lomba Senam dan Seminar Kesehatan

Peringati Hari Diabetes, RS Royal Taruma Gelar Lomba Senam dan Seminar Kesehatan

42
Lomba senam maumere turut memeriahkan peringatan Hari Diabetes Sedunia di RS Royal Taruma, Jakarta Barat. (NHW)

Jakarta, Kilasindo – Untuk memperingati Hari Diabetes Sedunia (Wolrd Diabetes Day) pada 14 November 2019, RS Royal Taruma yang berada di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, menggelar sejumlah kegiatan, di antaranya lomba senam diabetes, lomba senam maumere, dan seminar kesehatan.

Lomba senam diabetes diikuti sebanyak 350 peserta. Sedangkan lomba senam maumere diikuti 16 kelompok peserta. Setiap kelompok terdiri dari 6-10 orang. Sementara seminar kesehatan menghadirkan dr. Andra Aswar, SpPD-KEMD sebagai pembicara dengan tema: Diabetes dan Travelling.

Peringatan Wolrd Diabetes Day di RS Royal Taruma juga dihibur dengan penampilan Evolution Acapella & Team.

Lomba senam diabetes dalam peringatan Hari Diabetes Sedunia di RS Royal Taruma, Jakarta Barat. (NHW)

Khusus seminar kesehatan, dr. Andra Aswar, SpPD-KEMD yang didapuk sebagai narasumber memaparkan hal-hal yang perlu diperhatikan oleh para penderita diabetes saat melakukan perjalanan (travelling).

Secara umum, Andra Aswar menjelaskan, diabetes adalah penyakit yang gejalanya dapat dilihat secara spesifik maupun tidak spesifik. Untuk gejala yang spesifik, penderita diabetes biasanya gampang merasa lapar dan haus serta sering buang air kecil (kencing).

Sementara gejala yang tidak spesifik, menurut Andra Aswar, di antaranya penderita diabetes jika mengalami luka biasanya susah sembuh, disfungsi ereksi, sering gatal-gatal di selangkangan, penglihatan buram, gigi gampang copot, kulit kering, dan gampang kesemutan.

“Dari tahun ke tahun penderita diabetes terus meningkat jumlah,” kata Andra Aswar.

Terkait tema yang diusung dalam seminar tersebut, dr. Andra Aswar, SpPD-KEMD menjelaskan beberapa hal yang harus diperhatikan para penderita diabetes saat melakukan travelling.

“Banyak penderita diabetes yang belum tahu apa yang harus dilakukan kalau dia jalan-jalan atau travelling. Makanya, kita mengangkat tema: diabetes dan traveliing,” ujarnya.

Andra Aswar memaparkan, yang perlu diperhatikan para penderita diabetes yang akan melakukan travelling.

Pemeriksaan kadar gula darah sangat penting untuk mendeteksi dini penyakit diabetes. (NHW)

Pertama, jika melakukan perjalanan menggunaka moda pesawat terbang, penderita diabetes harus menginformasikan penyakitnya kepada maskapai penerbangan. Tujuannya, apabila terjadi sesuatu di pesawat saat penerbangan agar penderita diabetes cepat ditangani.

Misalnya, penderita diabetes dengan kadar gula yang rendah (hipoglikemia) atau kadar gula yang tinggi (hiperglikemi). Dengan memberitahu pihak maskapai penerbangan, maka penderita diabetes tidak dibatasi membawa obat-obatan.

“Penderita diabetes membawa insulin-insulin yang menggunakan jarum. Biasanya, membawa alat-alat yang tajam dilarang saat penerbangan. Namun, karena penderita diabetes menggunakan insulin, maka membawa jarum akan diizinkan,” katanya.

Kedua, penderita diabetes sebaiknya tidak sendirian melakukan travelling, tetapi ditemani oleh seorang kawan atau keluarga yang sudah mengetahui penyakitnya.

Ketiga, saat travelling, penderita diabetes sebaiknya membawa tanda pengenal seperti nametag atau buku yang berisi catatan tentang obat-obatan yang dibutuhkan. Tujuannya, untuk mempermudah penanganan (pertolongan) apabila terjadi sesuatu pada penderita diabetes.

Keempat, apabila perjalanan (penerbangan) butuh waktu yang lama, lebih dari 12 jam atau penerbangan antar-negara atau antar-benua, maka akan terjadi perubahan pola minum obat.

“Misalnya, kalau di Indonesianya biasanya minum obat pada pagi hari, di Eropa minum obatnya jadi malam hari.  Yang perlu diperhatikan, kalau obat yang dikonsumsi biasanya dua kali sehari, maka jadwal minum obat itu dapat di-skip, lalu besoknya baru minum obat lagi sesuai jadwal sebelumnya. Yang biasanya obatnya diminum pagi, diminum pagi, dan yang malam diminum pada malam hari,” paparnya.

Kelima, selama dalam perjalanan (travelling), penderita diabetes disarankan membawa obat dalam jumlah yang dilebihkan sebagai cadangan jika ada obat yang jatuh atau hilang selama perjalanan.

Keenam, penderita diabetes juga perlu memperhatikan pola konsumsi makanan. Jika di Indonesia biasanya makan nasi, mislanya, di luar negeri harus makan roti. “Jika penderita diabetes tidak suka makan roti tetapi harus mengonsumsi obat, maka hal ini bisa berbahaya. Sebab, kadar gula darahnya bisa jadi rendah. Sebaliknya, yang biasa makan nasi lalu makan roti dalam porsi yang besar, juga dapat mengakibatkan kadar gula darahnya jadi tinggi,” jelasnya.

Andra Aswar, SpPD-KEMD kembali mengingatkan para penderita diabetes memperhatikan hal-hal tersebut saat melakukan travelling. “Lewat seminar ini, kami ingin meningkatkan kesadaran para penderita diabetes bahwa banyak hal yang harus mereka perhatikan saat melakukan travelling,” pungkasnya. (SIR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here