Beranda News BMKG Tak Temukan Gejala Tsunami Lanjutan di Selat Sunda

BMKG Tak Temukan Gejala Tsunami Lanjutan di Selat Sunda

52
0
Tsunami di Banten

Kilasindo.com – Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono menyatakan, hingga saat ini, pihaknya tak mendeteksi gejala tsunami lanjutan di wilayah perairan Selat Sunda.

Hal itu membantah kabar adanya tsunami lanjutan yang menimpa sejumlah wilayah di Banten. Sebab, tide gauge (pendeteksi tsunami) di perairan Selat Sunda dan sensor di Cigeulis tidak menunjukkan adanya kenaikan gelombang permukaan air di Selat Sunda dan aktivitas vulkanik anak gunung Krakatau yang signifikan.

Menurut Rahmat, masyarakat terdampak tsunami sebelumnya sempat panik dikarenakan bunyi sirine. Ia mengatakan, dari BMKG tidak mengeluarkan peringatan tsunami lanjutan melalui sirine tersebut. Saat ini, pihaknya sedang mengecek lebih lanjut sirine mana yang berbunyi dan faktor penyebabnya.

“BMKG ada sirine, tapi kita tidak mengaktivasi, dan nanti kita kroscek, apakah di BPBD setempat membunyikan. Di sana juga ada sirine yang milik perusahaan baja di Cilegon Bisa jadi itu diaktivasi. Tapi semua itu masih simpang siur,” tuturnya.

Baca juga: Ini Kata BNPB soal Kabar Ada Tsunami Lanjutan di Banten

Menurut Rahmat, bunyi sirine juga bisa dapat dimaknai sebagai perintah evakuasi oleh pemerintah daerah setempat. Saat ini, ia masih menunggu informasi lebih lanjut atas bunyinya sirine tersebut.

Namun demikian, Rahmat tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap aktivitas vulkanik Gunung Krakatau dan gelombang tinggi di perairan Selat Sunda.

“Masyarakat sekitar pantai yang berlibur untuk tidak bermain sekitar pantai. Apalagi di Selat Sunda. Kalau memang itu adanya peningkatan aktivitas vulkanik lebih waspada lagi karena dampaknya ada gelombang tinggi ditambah tsunami,” imbuhnya.

Baca juga: Kena Tsunami Banten, Jenazah Gitaris Seventeen Ditemukan

Di sisi lain, ia meminta agar seluruh pihak menahan diri untuk tak menyebarkan informasi-informasi yang simpang siur terkait tsunami di wilayah perairan Selat Sunda. Sebab, hal-hal itu akan membuat masyarakat semakin panik.

“Setiap kejadian seperti ini kami sudah sangat paham kepanikan akan melanda masyarakat yang di sekitar tempat kejadian. Di Palu dan Lombok juga begitu, bahkan saya ingat betul bahwa saat tsunami melanda Pangandaran itu juga demikian, begitu mudahnya masyarakat dilempar isu untuk menambah kepanikan,” kata Rahmat.

“Saya berharap situasi panik ini tidak dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab untuk menambahkan kepanikan,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here