Beranda Tokoh Mendalami Penyakit Paru di Hiroshima University

Mendalami Penyakit Paru di Hiroshima University

dr. Budhi Antariksa, SpP, Ph.D (K), dokter spesialis penyakit paru di Rumah Sakit Royal Taruma. (Foto: Nurhadi Widayat)

Jakarta, Kilasindo – Menjalani profesi sebagai dokter sudah menjadi cita-cita sejak kecil bagi dr. Budhi Antariksa, SpP, Ph.D (K), dokter spesialis penyakit paru di Rumah Sakit Royal Taruma.

Cita-cintanya menjadi dokter berawal dari rasa pilu. Sebab, pada masa kecilnya, Budhi Antariksa harus rela melepas kepergian kakaknya yang meninggal pada usia 6 tahun akibat menderita penyakit leukimia. Pada masa itu, mereka tinggal di Palu, Sulawesi Tengah. Kakaknya yang menderita leukimia sempat dibawa berobat ke Surabaya. Di kota ini ada kekeknya, Prof. dr. Muhammad Toha Ronodipuro, dokter yang juga rektor di Universitas Airlangga, yang akan membantu perawatan kakaknya.

Namun, sakit yang diderita kakaknya belum juga sembuh hingga akhirnya dirujuk ke RSCM Jakarta. Lantara pada masa itu peralatan untuk pengobatan leukimia belum secanggih sekarang, akhirnya nyawa kakaknya tidak tertolong dan meninggal.

“Sejak itulah saya termotivasi untuk senantiasa menjadi dokter agar bisa menolong orang lain yang sakit,” kata Budhi Antariksa mengenang masa kecilnya.

Usai lulus SMA, Budhi melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan resmi menyandang gelar dokter pada 1991. Banyak pengalaman menarik dan mengharukan yang dialami Budhi saat awal-awal menjalani profesi dokter. Sebagai dokter fresh graduated, dia pernah ditugaskan sebagai dokter Puskesmas di daerah pedalaman di Asahan, Sumatera Utara.

Di desa itu, dia menjadi satu-satunya dokter Puskesmas yang meng-cover kesehatan penduduk satu kecamatan. Petugas medis lainnya di Puskesmas hanya ada mantri dan bidan. Tak heran jika setiap hari waktunya habis untuk mengobati pasien. “Jadi, kalau ada warga yang sakit selalu dibawa berobat ke saya, karena saya satu-satunya dokter saat itu,” tutur Budhi.

Bahkan, Budhi sering diminta datang ke rumah penduduk yang sakit pada tengah malam dengan kondisi desa yang sepi dan gelap. Sementara kendaraan ke rumah pasien hanya ada sepeda motor untuk melintasi jalan setapak yang membelah perkebunan kelapa sawit. “Demi tugas sebagai dokter, saya menjalani semua tantangan itu dengan lapang dada dan penuh tanggungjawab,” katanya.

Yang bikin berkesan, kata Budhi, lantaran keterbatasan ekonomi, keluarga pasien kerap membayar jasanya alakadarnya atau semampunya. Bahkan, tak jarang keluarga pasien yang rata-rata bekerja sebagai petani dan buruh kebun memberikan hasil kebunnya seperti buah-buahan sebagai bayaran atas jasa pengobatan.

“Saya pernah menangani pasien yang luka infeksi kulit akibat tertusuk duri kelapa sawit. Saya mengobatinya sampai sembuh. Lalu, keluarga pasien berulang kali memberikan ayam, pisang, dan buah-buahan lainnya sebagai bayarannya. Saya sudah menolak, tapi mereka tetap bersikukuh memberikan, karena saya dianggap sudah menolong mereka,” ungkap Budhi, yang juga anggota Kolegium Paru sejak 2017 hingga sekarang ini.

Bagi penduduk desa di daerah pedalaman, menurut Budhi, jasa seorang dokter tidak ternilai. Lain halnya dengan penduduk kota yang sudah mengerti tentang tarif dokter.

Usai menjalani tugas sebagai dokter Puskesmas, Budhi kembali ke Jakarta dan melanjutkan Program Pendidikan Spesialis Paru di FKUI. Dia sengaja memilih pendidikan spesial paru, karena penderita penyakit paru di Indonesia tergolong besar jumlahnya.

“Penyakit paru akibat kebiasaan merokok, polusi udara, dan angka harapan hidup yang meningkat akan menyebabkan jumlah penderita penyakit paru terus bertambah. Namun, dokter yang benar-benar menguasai penyakit paru jumlahnya sedikit,” tutur Budhi, yang juga anggota Tim Dokter Kepresidenan sejak 2014 hingga sekarang.

Tak sampai di situ, Budhi terus memperdalam pengetahuannya tentang penyakit paru dengan mengikuti program Research Student and Post Graduate Course pada Second Internal Medicine, Hiroshima University, Jepang. Dalam program ini, Budhi memperoleh beasiswa dari  Departemen Pendidikan Jepang.

Di program ini, Budhi meneliti tentang genetik pada orang-orang yang menderita emfisema. Emfisema adalah kondisi di mana kantung udara di paru-paru secara bertahap hancur, membuat napas lebih pendek. Emfisema merupakan salah satu dari beberapa penyakit yang secara kolektif dikenal sebagai penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Merokok adalah penyebab utama emfisema. (SIR)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here