KILASINDO.COM – Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti Desa Wisata Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, pada Minggu malam (8/11/2026). Ribuan wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara tampak memadati sepanjang jalan utama desa untuk menikmati perhelatan Festival Ngopi Sepuluh Ewu (10.000) Cangkir.
Pada festival tahunan yang telah memasuki penyelenggaraan ke-13 sejak pertama kali digulirkan pada 2014 ini, warga Desa Kemiren membuka lebar halaman rumah mereka. Tanpa memungut biaya, masyarakat lokal dengan ikhlas menyajikan ribuan cangkir kopi dan aneka kudapan tradisional khas Suku Using kepada setiap pengunjung yang datang.
Kehangatan Kuliner Tradisional Pikat Turis Mancanegara
Selain tegukan kopi hangat, para pengunjung juga dimanjakan dengan beragam jajanan tradisional Using yang disajikan di teras-teras rumah warga. Mulai dari kue kucur hangat, tape ketan berbungkus daun kemiri, hingga pisang goreng renyah disuguhkan secara gratis.
Daya tarik unik ini tak ayal menyedot perhatian wisatawan mancanegara. Jay, wisatawan asal Kanada, menyampaikan rasa kagumnya terhadap keramahan warga setempat dan kelezatan sajian kopi khas Kemiren.
“Kami disambut sangat ramah, masyarakat sini memberikan secangkir kopi gratis dan rasanya sangat enak,” ujar Jay.
Hal senada diungkapkan wisatawan asal Spanyol, Sarah, yang antusias karena bisa berinteraksi langsung dengan warga lokal di halaman rumah mereka. Sementara itu, Kazuki Yoshida dari Jepang mengaku sangat terkesan dengan keanekaragaman kuliner tradisional Banyuwangi yang dicicipinya sepanjang festival.
Simbol Gotong Royong dan Merajut Persaudaraan
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang turut hadir dalam acara tersebut menegaskan bahwa Festival Ngopi Sepuluh Ewu bukan sekadar pesta kuliner, melainkan media efektif untuk menjaga tradisi luhur masyarakat Using serta mempererat tali persaudaraan.
“Festival ini menjadi bagian dari upaya menjaga semangat gotong royong. Masyarakat ikhlas dan senang menyuguhkan kopi secara gratis kepada siapa saja, bahkan kepada orang yang belum dikenal. Meski sederhana, cara ini menjadi kekuatan untuk merajut persaudaraan dan persatuan,” kata Bupati Ipuk.
Membumikan Filosofi Suguh, Gupuh, Lungguh
Sementara itu, Kepala Desa Kemiren, Muhammad Arifin, menjelaskan bahwa perhelatan ini merupakan ikhtiar nyata dalam melestarikan adat istiadat Suku Osing dalam menghormati dan menyambut tamu. Tradisi turun-temurun tersebut berpegang teguh pada filosofi suguh, gupuh, lungguh—artinya menyajikan hidangan (suguh), menyambut dengan antusias (gupuh), dan menyediakan tempat duduk yang nyaman (lungguh).
Arifin menambahkan bahwa nilai-nilai keramahan luhur tersebut harus tetap ditanamkan agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Melalui perhelatan Festival Ngopi Sepuluh Ewu, tradisi khas ini diharapkan terus lestari dan dikenal luas oleh generasi muda maupun wisatawan dunia. (SNR)




