KILASINDO.COM – Korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, terus bertambah. Hingga Jumat (28/8/2026), jumlah korban meninggal dari kedua sisi perbatasan mencapai 584 orang.
Selain korban meninggal, sebanyak 2.482 orang masih dilaporkan hilang akibat bencana yang menyebabkan kerusakan parah di sejumlah wilayah tersebut.
Dilansir AFP, Sabtu (29/8/2026), otoritas penanggulangan bencana Nepal melaporkan sedikitnya 579 orang meninggal dunia. Sementara China mencatat lima korban jiwa di wilayah Tibet.
Palang Merah Internasional atau Red Cross menyebut dampak bencana tersebut sangat parah. Perkiraan awal menunjukkan sekitar 93.000 orang kemungkinan terdampak, sementara jumlah korban jiwa diperkirakan masih dapat bertambah.
“Akibat rusaknya jalan dan jembatan serta terputusnya jaringan seluler dan aliran listrik, kami belum dapat menjangkau beberapa wilayah yang paling parah terdampak. Trauma akibat peristiwa ini sangat luar biasa,” ujar Kepala Delegasi Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah untuk Nepal, David Fisher.
Tim Penyelamat Capai Lokasi Terdampak
Di wilayah otonom Tibet, China, tim penyelamat telah mencapai lokasi utama yang hancur akibat tanah longsor dahsyat.
Kantor berita pemerintah China, Xinhua, melaporkan enam anggota tim tanggap darurat dari Korps Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Tibet serta 15 anggota tim dari Korps Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Sichuan, bersama seekor anjing pelacak, tiba di wilayah perbatasan pada Kamis (28/8).
Tim tersebut disebut sebagai tim profesional pertama yang mencapai lokasi utama operasi penyelamatan.
Sementara itu, otoritas Nepal meningkatkan jumlah orang yang dilaporkan hilang menjadi 1.924 orang pada Jumat. Di sisi China, data pejabat setempat pada Kamis mencatat 558 orang masih hilang di wilayah terdampak.
Jika digabungkan, jumlah orang hilang di kedua sisi perbatasan mencapai 2.482 orang.
Menurut Otoritas Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nepal, mereka yang dilaporkan hilang termasuk 517 warga negara asing serta 933 pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang berada di kawasan sungai terdampak.
Warga Diminta Mengungsi ke Tempat Tinggi
Di tengah operasi pencarian dan penyelamatan, otoritas Nepal mengeluarkan peringatan kepada masyarakat agar berpindah ke lokasi yang lebih tinggi setelah muncul laporan mengenai jebolnya sebuah bendungan di Tibet.
China kemudian menghentikan sementara upaya penyelamatan setelah sebuah danau yang terbentuk akibat tumpukan besar puing dilaporkan mulai meluap.
Media pemerintah China kemudian menyebut risiko dari danau tersebut telah “menurun” dan operasi penyelamatan kembali berlangsung secara tertib.
Namun, belum dapat dipastikan apakah danau yang meluap tersebut merupakan lokasi yang sama dengan bendungan yang dilaporkan jebol dalam peringatan otoritas Nepal.
Kerusakan infrastruktur serta terputusnya akses komunikasi membuat proses pencarian korban di sejumlah wilayah terpencil masih menghadapi kendala. Kondisi tersebut juga menyulitkan otoritas untuk memastikan jumlah korban meninggal dan orang hilang secara keseluruhan.
Operasi pencarian dan penyelamatan masih terus dilakukan di kedua sisi perbatasan, sementara pemerintah dan tim kemanusiaan berupaya menjangkau wilayah yang hingga kini masih terisolasi akibat bencana. (DAO)




